January 01, 2016

Pelajaran Berharga Dari 2015

HAPPY NEW YEAR 2016 !!!


Nggak terasa udah 2016 aja yaaa. Jadi beberapa hari yang lalu saya nggak sengaja membaca sebuah topik menarik yang bisa dijadikan bahan tulisan blog demi menyambut tahun baru. Topik tersebut adalah 'What was your biggest lesson from 2015?' So deep kan pertanyaannya? Nah, kalau biasanya setiap tahun baru selalu ada resolusi, kali ini bukan resolusi yang dibuat. Tapi hal-hal apa saja yang sudah kita dapatkan selama 2015 yang bisa membuat kita jadi sosok terbaik diri kita seperti saat ini.


Biar seru dan nggak cuma saya aja yang menulis topik ini, saya dan Ucik memutuskan untuk mengajak teman-teman yang lain buat nulis tentang topik ini. Biar seru dan rame aja gitu. Sekalian juga bisa memberi manfaat kepada siapapun yang membacanya nanti. Tahun baru nggak sekadar bikin resolusi aja, tapi juga bisa bikin kita merenungi apa saja kejadian yang sudah terjadi selama satu tahun kemarin.
"Pengalaman adalah guru yang paling berharga"
Oke, sudah cukup intro yang kayaknya kepanjangan ini, muehehe. Langsung aja saya masuk ke topik yaaa. JENG JEEENG !!!

source: wekaagnes

Sebentar ya. Mau minta maaf karena seharusnya biggest itu 'paling' dan cuma sebiji. Tapi saya nulisnya jadi beberapa poin nih ._.v Oke yuk lanjut.

Completely 'lonely'

Well. tahun 2015 bisa dibilang tahun yang emosional buat saya pribadi. Sudah nggak duduk di bangku kuliah, pisah sama teman-teman MMB 11 dan masuk ke dunia kerja. Nggak barengan lagi sama teman-teman kuliah yang notabene juga teman main saya, fix saya jadi sosok yang nggak punya temen main yang asik (ih kuper banget. Biarin !!!). Apalagi saat temen-temen terdekat dan doi pergi merantau ke kota lain yang yaah nggak bisa dibilang deket, tapi nggak jauh juga sih. Hehe. Semua udah pada ngejar mimpinya masing-masing. Di sana mereka ketemu temen-temen baru dan ya, itu jelas bisa aja mereka sedikit lupa sama saya. hiks

Dan pada akhirnya hanya saya sendiri di sini (oke ini alay. hehe). Mau pergi kemana, bingung sama siapa (kecuali sama ortu). Mau ngapa-ngapain, bingung mau diskusi sama siapa (kecuali sama ortu juga). Well, mereka masih bisa saya hubungi via chat atau telepon, but it's totally different kalo mereka beneran ada di sini. Terpaksa, mau nggak mau, akhirnya saya harus bisa memutuskan apa saja sendirian. Butuh bantuan, hey mereka jauh ada di sana. Saya harus bisa menentukan sendiri dan melakukannya sendiri. Bukan berarti mereka nggak akan membantu saya, tapi jarak memang kejam. Toh jika mereka kesusahan, mereka juga nggak akan minta bantuan saya.

Pada akhirnya, yang menentukan apakah kamu mau melakukan hal ini atau itu adalah dirimu sendiri. Which path that you choose is depend on you, not them. Bukan masalah kalau saya harus melangkah sendirian karena nggak selamanya mereka akan selalu mendampingi saya, pun sebaliknya. Dari sini saya mulai sadar dan MAU MENERIMA kalau sebenarnya saya 'sendirian' untuk menjalani nasib saya sendiri. Ya, ini efek gagal move on dari temen-temen kuliah :'(


The power of sungkan

Di poin ini saya nggak bisa cerita banyak karena memang nggak bisa di-share secara blak-blakan. Tapi ada satu kejadian yang lumayan nendang. Hehe. Seperti kebiasaan orang Indonesia yang dikit-dikit sungkan, dikit-dikit sungkan. Karena sungkan, ujung-ujungnya diri sendiri yang rugi. Sebenernya, sungkan sih boleh aja. Tapi cobalah melihat hal yang membuatmu sungkan itu lebih luas lagi. Apakah hal itu hanya berefek sesaat? Apakah hal itu punya efek jangka panjang? Apakah hal itu menyangkut masa depan?

Banyak kasus, yang disebabkan oleh rasa sungkan, akhirnya hal yang besar dikorbankan. Atau misalnya, karena rasa sungkan, kita malah jadi rugi. Nah, dari hasil pengalaman saya, sungkan sih boleh-boleh aja. Tapi kalau kamu jadi rugi atau suatu hal yang besar sedang kamu pertaruhkan, lebih baik, buang saja rasa sungkan itu jauh-jauh. Nggak perlu takut bagaimana pendapat orang lain jika kamu nggak sungkan. Toh bukan mereka yang menjamin hidupmu. You have your power on your own life. Kalau kamu susah atau rugi, apa mereka yang bakal menolongmu? I'm sure they won't. Yang penting, kamu nggak melakukan sesuatu yang negatif atau merugikan orang lain seperti nggak sungkan nikung gebetan temen demi nggak jomblo di tahun 2016. Tsk.


Tegas dan yakin dengan keputusan sendiri, jangan gampang bilang ya

Seperti yang sudah saya bilang di awal kalau semua keputusan hanya kita sendiri yang menentukan. Maka dari itu, kalau sudah punya keputusan dan sudah yakin, jangan coba-coba mengubah keputusan tersebut seenak jidat apalagi cuma gara-gara mood yang nggak mendukung. Padahal mood kan bisa berubah-ubah secepat dia datang dan pergi kilat. Lagi-lagi saya nggak bisa cerita detil kejadiannya karena dapat menyindir beberapa pihak. Tapi yang penting, kejadian tersebut telah membuat saya jadi sadar kalau jangan mudah bilang ya terhadap segala hal. Lagi-lagi kata 'ya' muncul dari bibir saya karena saya merasa sungkan. Duh!


Tuh kan, lagi-lagi sungkan. Maka dari itu, kalau kamu nggak feeling buat melakukan hal yang nggak kamu suka, ya jangan mau. Ujung-ujungnya, kalau nggak ngeh di hati bakal bikin sesuatunya jadi serba nggak enak dan kacau. Susah sih, menolak sesuatu apalagi jika dari orang-orang terdekat. Tapi terkadang, bilang 'nggak' sangat membantu dan melegakan.


SOCIETY JUDGEMENT IS THE MOST EVIL THING EVEEEEER!!!

Ini nih salah satu yang mayan bikin baper sepanjang tahun. Penilaian masyarakat entah mengapa di era serba canggih seperti ini kerasa banget. Entah mau secara langsung, ataupun lewat sosmed. Yang ini lah yang itu lah. Yang begini lah yang begitu lah. Kalau nggak ikut tren dibilangnya nggak hits dan kekinian :( Kalau nggak ngikutin standar tertentu, dibilangnya nggak sukses, nggak keren, madesu, de el el, de el el. Huft!

Nggak munafik, meskipun awalnya nggak suka, lama-lama juga ikutan tergiring arus kekinian. Tapi, kalau dipikir-pikir, ngapain juga ngikutin maunya orang-orang ya kan? Capek juga, toh juga nggak sesuai sama keinginan hati. Hikz. Lelah hati adek bang :(. Makanya, saya jadi sadar, kalau nggak perlu lah melulu ngikutin apa mau orang. Ujung-ujungnya jadi susah sendiri. Ini agak susah dilakukan, karena nyatanya sampai sekarang saya masih mbulet-mbulet di masalah ini aja. Nggak menemukan jalan keluar. Bilangnya sih nggak peduli omongan orang, tapi dalem ati, baper juga denger omongan-omongan mereka. Astagaaah !!



Well, meskipun ada 4 poin, kayaknya semuanya bisa dijadikan jadi satu poin aja kan? Yaitu, hidupmu ada di tanganmu sendiri dan bukan orang lain yang menentukan. Kalau ada yang terjadi di hidupmu, kamu sendiri yang merasakan, bukan orang lain.

Jadi, masih tetep BIGGEST kan? Oke ini maksa! Hehehe. Well, semoga tulisan ini bermanfaat buat kita semua yaa. Boleh kok kalo mau komen komen :) Atau kamu mau ikutan nulis dengan topik 'What was your biggest lesson from 2015?' juga? Feel free to write your biggest lesson ya gengz :D

Postingan ini ditulis sebagai refleksi diri dan berbagi pengalaman selama tahun 2015.

10 comments:

  1. Ada point yang sama sih, tapi karena biggest itu cuman satu yaudah yang tak tulis ya cuma satu :D ngahahahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. inti dari semua #2015biggestlesson pada insekyur dan terkena dampak socirty judgement mas :v hwkwkw

      Delete
  2. Aku nggak nyangka kamu sebegitunyaaaaa :))))) alhamdulillah selalu ada ahong dalam setiap masalah :))))

    ReplyDelete
    Replies
    1. iki opo yo? kok aku maneh?

      serba salah -_-

      Delete
    2. sebegitunya gimana cik ._.
      hwkwkwk suwon lho hong ahong :v

      Delete
  3. Hai Mbak Weka, aku setuju banget dengan poin diatas (kecuali yg pertama hehe, meskipun singlet tapi dasarnya daridulu suka kemana-mana sendiri jadi ini sangat membantuku mbak wkwk #jadicurhat) aku mau ngasih pendapat yg social judgement, itu emang nyebelin banget ya mbak, secara gak langsung ketika hampir semua temen - temen kita udah berubah menjadi sosok yg menjadi standar para kekinian dan akhirnya sadar "eh kok mereka udah ganti kayak gitu semua ya, sedangkan diri ini sendiri masih asik keluar kosan pake sandal jepit, celana tidur, cuma cuci muka aja gak pake gincu merah merona"

    hmm di satu titik kadang ya pengen ikutan tampil lebih terkini tapi di titik lain aku mikir kayak apa yg mbak pikirin "ya ampun ngapain ikutan itu-itu?" dan akhirnya dengan tingkat kepedeanku yg terlalu over akhirnya aku sendiri mutusin gak usah niru lah standar yg seperti itu, berpenampilan sesuai kemampuan kita dan sederhana aja kalo bisa. Karena kadang aku mikirnya gini mbak, ke sini ketemu orang stylenya gini, kesini eh sama lagi kayak gini, kesana eh gitu lagi sama, trus bosen gitu mbak liatnya kok gini - gini aja ya stylenya. Padahal aku yakin tiap orang pasti punya style masing - masing tapi kadang karena suatu "standar" tertentu yg bikin orang bakal keliatan lebih wah atau lebih menarik seseorang itu bakal ngerubah style aslinya.

    Hmm panjang ya mbak hahaha sekian dari Imama mbak, maju terus Mbak Weka :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. lho kalo masalah keluar sendiri sih sebenernya gapapa im. cuma kadang kalo udah keluar terus lihat orang-orang lain yang pada pergi rame-rame bareng teman atau bahkan berdua sama doinya, jadi agak gimana gitu. langsung galau melow gitu :' hwkwkw.

      nggak apa ikut arus kekinian sebenernya, sebatas kita nyamannya di mana ._. tapi kalau ngikutin nyaman juga rasanya kok kayak jadi ketinggalan banget ya :( tapi kalo ngikutin gitu, kok rasanya lelah ya. apalagi kalo udah mentok tetep kalah hits. terus jadinya malah jadi kayak lomba hits -_- padahal masih banyak kegiatan produktif yang bisa kita lakuin. kalo disadari sih justru kalo mau fokus produktif kita jauh lebih keren dari mereka mereka yang ikut arus. ya nggak? Kayak kamu travel blogger yang mbois ngets im :3 wuwuwu

      iya maju terus buat kita :3 bikin hestek #2016productive yak :P hwkwk

      Delete
  4. "hidupmu ada di tanganmu sendiri dan bukan orang lain yang menentukan. Kalau ada yang terjadi di hidupmu, kamu sendiri yang merasakan, bukan orang lain."

    Bener...dan ada satu waktu dimana itu menjadi titik terbawah dari dalam hidup, "You! ONLY YOURSELF! yang bisa menyelamatkan. Orang-orang disekitar hanya bisa memberi semangat, niatan untuk bangkit berasal dari dalam diri sendiri" belajar itu juga wek... ^_^ agak susah sih ya..tapi 37 hari tidak bisa tidur, nangis terus, stress berat, nafsu makan turun, mimpi buruk hingga kondisi kejiwaan yang mengalami perubahan drastis (yang ini menurut orang-orang disekitarku). Perlu hati yang bener-bener lapang untuk sabar dan ikhlas...selalu berfikir, bahwasanya masih banyak orang di luar sana memiliki masalah yang lebih berat dari kamu....(fase healing andin hahahah....)

    "SOCIETY JUDGEMENT IS THE MOST EVIL THING EVEEEEER!!!"

    Setuju! tapi aku dari SD kelas 6 dengan bentuk tubuh 'jumbo' sampek di bully, sudah belajar untuk menutup kuping dengan komentar negatif. Fokus untuk jadi diri sendiri dengan menonjolkan uniknya kita dan banyak sisi positif kita, bakal lebih oke...
    Kalo masalah tren...perubahan itu selalu ada kan ya, semakin jadi wanita dewasa harusnya bisa lebih bisa menempatkan diri juga, nggak harus ikut trend...simple yet attractive :p , seenggaknya kalo keluar pake bedak tipis" sama sun block, lebih rajin merawat muka (sadar kalo kulit sudah gak muda juga), hidup sehatlah pokoknya...ga perlu lah pake gincu" ato eye liner tebel-tebel kaya orang habis kena pukul *ea....

    ReplyDelete
    Replies
    1. ndin sorry baru sempet bales yak.
      astagaaa, aku nggak tau masalah seberat apa yang kamu hadapi sampe efeknya segitu banget :( tapi kalo efeknya ngeri gitu, berarti kamu sangat strong ya ndin :') sekarang sudah feel better atau bahkan awesome kan? :'D
      besok-besok kalo galau curhat ke kamu aja ya ndin. hehehe.

      iya ndin. social judgement itu emang jahat banget >.< sampe akhire melok melok an jadi fake looh *syedih banget kan?
      he ndiiin, kalo gincu pake lah sekarang. secara wes bukan mahasiswa. hwkwkw

      Delete