July 29, 2013

Hari Kedelapan - Hari Keenam

Masih melaksanakan kerja praktek dan masih hidup sementara di Jogja.
Oke kali ini saya mau cerita sedikit mengenai masalah keuangan saya sebagai anak kos baru. Wajib tau aja kalo masalah keuangan itu bener-bener sakral bagi siapapun.Sekarang saya jadi ngerti gimana temen-temen kampus saya yang notabene anak kos ngeluh masalah keuangan. Kalau jadi anak kos, mau nggak mau harus bisa ngatur keluar masuknya uang. Berapa pengeluaran yang bisa dilakukan dalam sebulan dengan hasil kiriman uang dari orang tua. 
Menurut saya, pengeluaran terbesar dan sangat berpengaruh biasanya adalah untuk ngisi perut alias makan (karena butuh banget tiap hari). Tapi, di sini, di Jogja, untuk masalah makanan, bisa terkendali lah. Makanan disini relatif murah pake banget. Bayangin aja, tadi siang saya makan nasi soto deket kos harganya cuman 5ribu perak. Di Surabaya mana boleh nasi soto 5ribu :O Nggak itu juga, harga mie ayam juga sama yaitu 5ribu rupiah. Untuk makanan ringan di supermarket sih harga standar. Se-Indonesia raya juga sama harganya. Hihi. Jadi bisa dibilang aman lah untuk masalah makanan. Dalam minggu pertama kerja praktek, keuangan saya masih aman terkendali sampai menjelang weekend. 
Jadi, hari Sabtu kemarin, tepatnya hari keenam, saya dan ketiga teman saya bermaksud untuk jalan-jalan ke Malioboro dan bertemu dengan teman sekelas saya di kampus yang juga kerja praktek di Jogja (tapi di tempat lain). Sekitar  pukul setengah satu, saya dan ketiga teman saya (Angen, Opi dan Ve) pun berangkat. Transportasi menuju Malioboro bisa dibilang murah. Kami naik bus cukup dengan hanya membayar 3ribu rupiah saja. Tapi, karena tujuan pertama saya dan Ve adalah membeli tiket pulang ke Surabaya di Stasiun Tugu Yogyakarta maka kami pun harus merogoh kocek lagi untuk naik becak menuju stasiun (7500 rupiah per anak). Dan untuk mendapatkan tiket pulang, saya harus rela mengantri sekitar satu setengah jam karena antrian reservasi tiket lumayan banyak. Beruntung saat itu ketemu bule ganteng yang lumayan bikin hati seneng :p Hehe. Selanjutnya saya ke Malioboro. Disana saya sempat membeli baju bergambar barong seharga 15ribu rupiah. Entahlah itu murah atau enggak, karena saya beli di toko harga pas.

Ini kaos barong saya :p

Destinasi kami selanjutnya yaitu Toko Buku Gramedia yang berada di dalam Mal Malioboro. Oke saya tahu Gramedia tersebar di seluruh Indonesia dan pastinya di kota sebesar Surabaya pasti juga ada Gramedia. Tapi mumpung lagi pegang uang sendiri dan bisa membelanjakan uang tersebut terserah saya, maka saya memanfaatkan keadaan ini untuk membeli buku (baca: novel) xD 
Niat awal saya adalah membeli novel dengan judul To Kill a Mockingbird dan Dunia Sophie. Karena kemarin di Gramedia saya tidak menemukan dua buku tersebut dan malas menanyakan pada petugas Gramedia, alhasil saya membeli novel lain. Mungkin saya bisa membelinya via online. Hehee...
Novel lain tersebut berjudul London dan The Jacatra Secret (saya juga sudah lama menginginkan novel ini). Keduanya adalah novel karya negeri sendiri. Dan kedua novel itu seharga 120ribu rupiah (-_-)

Novel karya negeri sendiri
Setelah puas di Gramedia, kami pun bertemu dengan teman sekelas saya di kampus yang kerja praktek di tempat lain. Mereka adalah Novenda dan Mas Pandu. Kami berenam langsung berjalan menuju Angkringan Kang Harjo yang terletak di dalam area keraton (begitu kata Mas Pandu). Lumayan bikin kaki cenut-cenut berjalan dari Malioboro sampai ke angkringan ini. 
Angkringan Kang Harjo memakai sistem prasmanan dan mulai ramai saat tiba buka puasa.  Tempatnya cukup nyaman dan enak untuk cangkruk. Terdapat dua lantai di angkringan ini. Lantai bawah berisi banyak meja dan kursi untuk pengunjung, sedang di lantai dua, kita bisa lesehan. Angkringan Kang Harjo juga sudah dilengkapi oleh kamar kecil dan mushola. Sebenarnya, harga makanan disini menurut saya harga normal. Tidak murah dan tidak mahal. Saya menghabiskan sekitar 15ribu rupiah untuk dua gelas es milo, 3 tusuk sate ayam dan satu sosis dibalut mie. Tapi karena saya telah mengeluarkan uang lebih dari 250ribu pada hari itu, saya sedikit shock :|
Sekitar pukul 8 malam, kami pun kembali ke Malioboro. Menikmati Malioboro di malam minggu. Ah ya malam minggu. Malam minggu di Jogja nggak ada bedanya sama malam minggu di Surabaya. Banyak pemuda-pemudi turun ke jalan untuk menikmati momen bersama teman-teman atau kekasih mereka (i miss him ._. ). Banyak juga orang-orang yang berkarya disitu (sebut saja seniman). Mulai dari cosplay hantu-hantuan khas Indonesia seperti pocong dan kuntilanak, sekumpulan orang-orang yang suka menggambar, skate dan juga para pengamen yang menyuguhkan nyanyian ataupun tarian tradisional. Benar-benar ramai. Pukul setengah 10 malam kami berempat pun segera pulang (Mas Pandu dan Novenda masih stay). Cukup patungan 7500rupiah naik taksi untuk dapat sampai kos dengan cepat dan selamat.

Nah, sejak hari keenam kemarin, Hari Sabtu, keadaan keuangan saya menjadi tidak aman lagi. Memang kalau jalan-jalan bawaannya selalu lapar mata. Pingin beli ini pingin beli itu. Dan hasrat membeli novel pun masih belum hilang. Malah semakin bertambah wishlist novel saya. Ah yaa, membaca adalah hobi nomor satu saya :)

July 25, 2013

Hari Keempat


Alhamdulillah sudah menginjak hari keempat. Dan besok adalah hari kelima saya melaksanakan kerja praktek. Agak sedikit mengalami frustasi dan jenuh karena selama 8 jam hanya berdiam diri di dalam ruangan.Mau keluar ruangan ya sungkan karena teman-teman yang lain dan bahkan pegawai disini tidak ada yang keluar ruangan kecuali pada jam sholat. Kalau dibandingkan dengan kuliah, walaupun seharian full kampus (berangkat pagi pulang malam), saya lebih memilih di kampus. Entahlah, mungkin karena berada di 'tempat sendiri' dan jarak dengan orang tua nggak ratusan kilometer seperti sekarang ini.
Sempat juga tadi curhat sama orang-orang di rumah via LINE dan telepon. Dan nggak henti-hentinya mereka memberi semangat pada saya. Rasanya pengen pulang ke Surabaya sekarang juga. Tapi masih banyak sekali alasan untuk tetap bertahan disini. Heheee. (Emang mau nggak lulus kuliah ye?) Yah, alasan terkuatnya ya itu. Hahahaa.

July 23, 2013

Hari Pertama

Hari ini adalah hari kedua kerja praktek saya di Yogyakarta bersama 3 orang teman saya. Baiklah, meskipun sekarang sudah menginjak hari ke-2, tapi saya akan menceritakan sedikit bagaimana hari pertama kerja praktek kemarin. Kemarin adalah kali pertama saya dalam hidup saya, saya menjaid seorang anak kos. jauh dari orang tua, saudara, teman-teman (kecuali 3 orang yang bersama saya saat ini), si 'dia' dan juga jauh dari kampus yang bisa dibilang adalah rumah kedua saya. Sekarang saya mengerti penderitaan atau apa yang dirasakan oleh seorang anak kos. Hal pertama yang saya soroti dari tidak enaknya anak kos adalah jauh dari orang tua. Kalau di rumah, semisal kita mendapat sedikit kesulitan saja, pasti ujung-ujungnya tinggal minta bantuan orang tua. Kalau jadi anak kos? mau nggak mau ya harus diurusi sendiri :| . Hal kedua yang nggak enak juga adalah masalah konsumsi. "Masakan Ibu adalah masakan paling enak sedunia" . Kutipan tersebut sangat benar. Disini saya agak sedikit menderita soal makanan. Hiks. Sekarang, tiap sahur saya harus makan makanan yang tidak hangat alias sudah dingin ditemani dinginnya pagi (kalau di rumah selalu anget-anget). Pas buka puasa juga harus nyari-nyari makanan sendiri. Nggak kayak pas di rumah selalu siap sedia. Tinggal ambil di meja makan. (Maaf kalau saya kebanyakan ngeluh :| ) Tapi ya memang ini pengalaman pertama saya menjadi anak kos. Jadi harap dimaklumi. Hehehe
Selanjutnya adalah perasaan yang selalu pengen pulang. Ketemu sama orang-orang terdekat saya dan kembali ke tempat kelahiran saya Surabaya. Kangen sama kulinernya, mall-mall nya, tempat nongkrongnya, apalagi kampusnya (baca: kampus PENS).
Sekarang saya bener-bener ngerti dan paham bagaimana perasaan teman-teman sekelas saya di kampus kalau mereka kadang-kadang mengeluh pengen pulang. Emang nggak enak rasanya jauh dari orang tua dan nggak tinggal di kota sendiri. Padahal menurut saya, Surabaya itu kota paling oke sedunia :)) , tapi bagi anak-anak kos di Surabaya, ya paling enak ya kota tempat tinggal mereka sendiri. Dan itupun terjadi pada saya saat ini. Mungkin orang Yogyakarta akan bilang, Yogya lebih nyaman dari Surabaya, tapi bagi saya, Surabaya tempat paling nyaman sedunia. Hihii manusia yaa.
Oke cukup ngelantur dan mengeluh soal jadi anak kos. Di hari pertama kerja praktek saya, diisi oleh briefing dari pembimbing disini dan mengerjakan sedikit tes kecil-kecilan untuk mengetahui sense of art saya dan teman-teman. Saya dan teman-teman juga mendapat partner beberapa mahasiswa dari Universitas Negeri Solo (saya belum hafal namanya satu persatu -_- )
Oke seperti itulah hari pertama saya kerja praktek. Mungkin bagian cerita kerja prakteknya cuman sedikit, kebanyakan mengeluh tentang menjadi anak kos. Tapi itulah yang saya rasakan :)

July 08, 2013

The Answer is the Reality

Jadi ceritanya ada saat dimana saya selalu bertanya-tanya akan suatu hal yang sukses bikin saya berprasangka negatif dan stress sendiri. Mau cari jawabannya dengan bertanya kepada yang bersangkutan, tapi takut malah salah ngomong dan bikin orang tersebut jadi memikirkan hal yang mungkin tidak ingin dia pikirkan. Tapi saya sangat butuh jawaban dari pertanyaan itu. Supaya enggak ada salah paham dan nggak ada yang ngganjel di dalam hati. Seseorang pernah bilang "kalo ada apa-apa ya diomongin aja. jangan dipendem". That's why kali ini saya berani buat nanya pertanyaan bertubi-tubi yang bikin saya sometimes makan ati dan sedih. 
Ada beberapa hal yang saya tanyakan dan alhamdulillah dapet jawabannya. Tapi, entah kenapa, dalem hati ini rasanya masih ngganjel. Jawaban yang saya inginkan sepertinya belum memuaskan saya sepenuhnya. Walaupun jawaban tersebut masuk akal. Selain itu, memang bener kalo ada yang bilang 'kenyataan memang pahit'. Ada satu pertanyaan terjawab dan jawabannya benar-benar bukan jawaban yang saya inginkan. I don't know. Maybe I was expect too much.
Tapi dari situ saya jadi tahu, saya jadi nggak perlu menebak-nebak apa yang terjadi. Walaupun memang mengecewakan. Mungkin saya harus bersabar kali ini dan menunggu saat itu tiba, dimana pertanyaan-pertanyaan tersebut jawabannya akan memuaskan saya. Dan yang paling penting saya jadi bisa mempersiapkan diri jika memang jawaban tersebut tidak pernah bisa berubah jadi jawaban yang saya inginkan. 

People are afraid of themselves, of their own reality; their feelings most of all. People talk about how great love is, but that’s bullshit. Love hurts. Feelings are disturbing. People are taught that pain is evil and dangerous. How can they deal with love if they’re afraid to feel? Pain is meant to wake us up. People try to hide their pain. But they’re wrong. Pain is something to carry, like a radio. You feel your strength in the experience of pain. It’s all in how you carry it. That’s what matters. Pain is a feeling. Your feelings are a part of you. Your own reality. If you feel ashamed of them, and hide them, you’re letting society destroy your reality. You should stand up for your right to feel your pain.”- Jim Morrison

July 01, 2013

Cepat Pulang

Jadi kemaren tiba-tiba temen sekelas, si Ucik dan Razaq, nyanyi lagu ini. Dan liriknya pas banget buat yang saya rasain kalo pas lagi kangen ._.



ini liriknya:

Kemarin ku lihat awan membentuk wajahmu
Desau angin meniupkan namamu
Tubuhku terpaku

Semalam bulan sabit melengkungkan senyummu
Tabur bintang serupa kilau auramu
Aku pun sadari, ku segera berlari

Cepat pulang, cepat kembali, jangan pergi lagi
Firasatku ingin kau tuk cepat pulang
Cepat kembali, jangan pergi lagi

Alirnya bagai sungai yang mendamba samudera
Ku tahu pasti kemana kan ku bermuara
Semoga ada waktu (sayangku) sayangku

Ku percaya alam pun berbahasa
Ada makna di balik semua pertanda
Firasat ini rasa rindukah ataukah tanda bahaya
Aku tak peduli, ku terus berlari

Cepat pulang (cepat pulang), cepat kembali, jangan pergi lagi
Firasatku ingin kau tuk cepat pulang (cepat pulang)
Cepat kembali, jangan pergi lagi

Dan lihatlah sayang (lihatlah)
Hujan terus membasahi seolah luber air mata

(cepat pulang, cepat kembali, jangan pergi lagi
(firasatku) ingin kau tuk cepat pulang
(cepat kembali, jangan pergi lagi) ku hanya ingin kau kembali
(firasatku ingin kau tuk cepat pulang) pulang
(cepat kembali, jangan pergi lagi)

Aku pun sadari
Kau takkan kembali lagi