November 15, 2014

Oleh-oleh Dari Surabaya Book Fair 2014

Well, sebenernya tulisan ini telat nulisnya. Hehe... Tapi nggak papa lah. Nggak telat-telat banget kok. Jadi hari Kamis (13/11) saya pergi ke Surabaya Book Fair. Saya tahu event ini kalo nggak salah dari grup What's App Klub Buku Surabaya. Saya udah nungguin sejak H-7 hari Surabaya Book Fair. Jelas aja saya menanti-nanti. Tahu sendiri kalo saya hobi banget baca. Hihi. Itung-itung di Surabaya Book Fair bakalan banyak buku murah meriah. Ini nih penampakan posternya.

Poster Surabaya Book Fair 2014

Pulang kerja, saya langsung cus aja ke lokasi. Event ini diselenggarakan di Jatim Expo Surabaya. Dengan berbekal sedikit uang, saya pede aja dateng. Sesampainya disana, ekspektasi saya ketinggian nih. Yang saya kira event ini bakalan rame serame acara ICE (Indie Clothing Expo) sepekan sebelumnya, eh event ini bisa dibilang sepi. Yah ada sih pengunjung, tapi nggak bisa saya sebut rame. Entahlah, itu karena timing saya yang nggak tepat datengnya, atau event yang digelar selama seminggu itu tiap hari pengunjungnya segitu-gitu aja. Atau mungkin lagi memang nggak bisa dibandingin sama ICE, karena perbedaan lamanya event yang diselenggarakan. Dua hari dan enam hari. Tapi kalo lihat sepinya, miris deh. Bukan penyelenggara event yang kurang promosi, wong buktinya saya aja tahu infonya. Disana juga banyak banget stand dari berbagai penerbit. Terus ada juga panggung dan kursi yang disediakan untuk mengisi acara dan seminar-seminar, nggak lupa juga ada sudut foodcourt disitu. Harga bukunya? Udah murah kok dibandingkan dengan yang ada di toko-toko buku. Kurang apa coba ya? Setelah ditelisik lebih jauh, anggapan saya jatuh pada 'bahwa budaya membaca di kota Surabaya tercinta ini masih kurang'. Walaupun semisal nih, disana orang-orang nggak menemukan buku yang diinginkan, setidaknya kalo mereka suka baca, pasti deh menyempatkan diri buat dateng ke event itu. Ah tapi entahlah, saya sendiri hanya dateng sekali di event itu. Dan bertahan disitu cuma 2 jam. Soalnya udah ada janji lain, 

Buku-buku yang dijual disana macam-macam. Tapi mungkin kamu akan kesulitan menemukan buku-buku terbitan GPU atau Mizan yang khas dengan novel-novel fiksi yang selalu jadi bestseller. Disana lebih banyak stand buku yang menjual buku-buku agama. Jadi buat kamu yang mau hunting buku-buku seputar Agama Islam, saya rekomendasikan buat pergi kesana. Nah, buat kamu yang juga suka sama sejarah, apalagi sejarah Indonesia jaman orde baru, orde lama maupun reformasi, kamu juga bisa dateng kok. Ada satu stand yang menjual buku-buku sejarah. Saya sebenernya tertarik buat beli, tapi apa daya kantong udah tipis. Miris. Nggak melulu buku agama dan sejarah, ada juga beberapa stand yang menjual novel-novel fantasi ataupun chicklit yang biasanya saya baca. 

Walaupun dompet tipis dan miris, alhamdulillah yah saya nggak pulang dengan tangan kosong. Saya membeli 3 buku dengan harga yang sangat murah. Ini dia 3 penampakan buku yang saya beli.

All the Single Ladies - Jane Castello
Saya tertarik beli buku ini bukan dari kavernya kok. Tapi saya baca sinopsis cerita di balik bukunya. Saya memang penggemar bacaan berat yang bikin tegang macam Divergent atau The Hunger Games. Tapi kadang baca buku-buku itu juga bikin lelah hati dan pikiran. Biasanya saya bakal merilekskan diri dengan membaca buku-buku semacam ini. Cerita yang girly dan unyu abis :3. Harga buku ini cukup Rp 10.000,- aja. 

Misteri Kematian Poe - Matthew Pearl

Selanjutnya adalah buku berjudul Misteri Kematian Poe. Saya tertarik mengambil buku ini awalnya gara-gara lihat tulisan Edgar Allan Poe di kavernya. Saya nggak asing sama nama itu. Pokoknya nama orang beken. Hehe. Setelah saya gugling, ternyata Edgar Allan Poe ini adalah seorang penulis Amerika di abad 19. Nah kan makanya saya nggak asing, ternyata penulis toh. Selain nama Edgar Allan Poe, seperti kebiasaan saya kalo sebelum beli buku selalu baca sinopsis di balik buku, dar situ saya tahu kalo ini adalah buku tentang detektif. Okay, worth it to buy. Harganya? Cukup Rp 20.000,- aja. Masih baru dan terbungkus rapi.

The Summoning - Kelley Armstrong.
Kalo kamu rajin ke toko buku, apalagi ke Gramedia, kamu pasti sering banget liat buku ini di bagian novel fiksi. Nah kemarin saya lihat buku ini dan nggak ragu buat langsung beli. Kayaknya buku ini cuma satu-satunya deh, sama kayak buku Misteri Kematian Poe. Soalnya saya cuma menemukan satu. Selain itu, dari dulu saya selalu tertarik sama buku yang di kavernya ada tulisan New York Times Bestseller. Nggak tau kenapa. Mungkin kalo udah ada label itu di kaver, seenggaknya ceritanya nggak akan mengecewakan. Semoga. Harganya jauh banget murahnya daripada di toko-toko buku lho. Disini cuma Rp 20.000,-. Tapi ya tanpa plastik dan keadaan buku nggak sebaru yang ada di toko buku.

Nah itu tadi sedikit sharing saya saat berkunjung ke Surabaya Book Fair. Event ini digelar dari tanggal 11 November sampai 16 November. Jadi buat kamu yang belum sempat dateng atau gara-gara baca tulisan ini jadi penasaran, masih ada kesempatan buat dateng di tanggal 16 ini. Tapi kalo baca tulisan sayanya telat, ya udah ikhlasin aja. :)
Tips dari saya, kamu harus sabar dan teliti buat cari-cari buku yang menurutmu worth to buy. Contohnya kayak saya yang nggak nyerah buat menemukan ketiga buku ini. 

November 10, 2014

Hari Pahlawan Sekarang dan Empat Tahun yang Lalu


Hari ini tepat tanggal 10 Nopember 2014. Kalo kamu warga negara yang baik, kamu pasti tahu kan ya kalo hari ini adalah hari besar bagi rakyat Indonesia. Tanggal 10 Nopember diperingati sebagai Hari Pahlawan. Oke, disini saya nggak akan menceritakan gimana asal usulnya kok bisa sih tanggal 10 Nopember itu diperingati sebagai Hari Pahlawan. Kembali ke pernyataan sebelumnya, kalo kamu adalah warga negara yang baik, kamu pasti tahu. Hehehe...

Peringatan Hari Pahlawan kali ini sama seperti peringatan sebelumnya bagi saya. Banyak sekali acara-acara keren yang digelar oleh pemerintah, khususnya buat kota tercinta saya kota Surabaya. Mulai dari Pawai Surabaya Juang sampai Drama Teatrikal 10 Nopember. Tapi sayang, meskipun udah 20 tahun tinggal di kota ini sekalipun saya belum pernah menyaksikan drama teatrikal tersebut. Banyak yang bilang kalo drama yang dipentaskan ini nggak main-main. Sebuah tank asli (iya bukan mainan) benar-benar dihadirkan. Mungkin tahun depan saya bisa menyaksikannya. Semoga.

Nggak ada yang berbeda dari peringatan Hari Pahlawan saya kali ini dan 3 tahun yang lalu. Menyandang status sebagai mahasiswa, justru saya nggak merasakan euforia Hari Pahlawan. Bukan kampus saya nggak merayakan Hari Pahlawan sama sekali, tapi sayanya aja yang nggak greget menghadiri upacara bendera di kampus. Semacam nggak ada yang bisa mendorong saya buat datang pagi-pagi ke kampus untuk upacara bendera. Berbeda lagi saat saya masih duduk di bangku SMA, 4 tahun yang lalu. Nggak tanggung-tanggung sekolah saya merayakan Hari Pahlawan 2 hari penuh. tanggl 9-10 Nopember 2010. Selama 2 hari, saya diwajibkan untuk menggunakan pakaian bertema pahlawan. Tentu saja ini menjadi hal yang sangat menarik bagi semua elemen yang ada di sekolah, Nggak peduli murid-murid, guru bahkan pak satpam juga kudu pakai baju pahlawan. 

Saya udah nggak seberapa ingat detilnya selama 2 hari itu ngapain aja. Yang pasti, 2 hari itu adalah Hari Pahlawan paling seru dalam hidup saya. Oke ini lebay., Tapi beneran deh. Teman-teman saya juga menikmati banget saat itu. Ada yang memakain baju dokter (yah pahlawan masa kini lah ya), atau pake baju kebaya (ini niatnya mau kayak Ibu Kartini), pake baju doreng (ala ala tentara) dan saya pake baju ini......

Ini saya tepat 4 tahun lalu.


Teman-teman saya juga nggak kalah seru kok. Apalagi bapak sama ibu gurunya. Mereka sama-sama totalnya :D
Ini beberapa temen-temen cowok saya saat SMA. Hahahaa.
 Unfortunately all of them already taken guys :p
Ini guru-guru saya. Bapak yang di tengah itu kepala sekolah .
Udah sangar banget kan kayak tentara beneran. Eh tapi Pak Sadali ini atlet gulat lho.
Gimana nggak seru kalo semuanya berusaha total dalam perayaan Hari Pahlawan. Acara-acara seperti lomba-lomba juga nggak ketinggalan buat diadain. Bahkan ada juga yang membuat sebuah drama tentang insiden perobekan bendera merah putih.

Ya saya tahu kalo Hari Pahlawan nggak harus dimeriahkan dengan acara-acara semacam itu. Memakai baju pahlawan dan acara-acara meriah lainnya yang membuat orang bersemangat. Di sisi lain, Hari Pahlawan cukup kita rayakan dengan berdoa di dalam hati untuk mendoakan para pejuang yang udah rela gugur demi bangsa ini. Berdoa sebagai salah satu rasa terima kasih kepada mereka para pejuang. Mereka gugur dengan tahu bahwa mereka hanya akan menjadi salah satu ribuan orang yang meninggal dalam perang, tanpa ada embel-embel nama mereka akan dikenang, tanpa ada keinginan untuk mendapatkan perlakuan istimewa di kemudian hari jika mereka selamat. Mereka tahu pada akhirnya mereka hanya akan dikenal dengan sebutan 'pejuang'.

Dan seorang pahlawan adalah seorang yang mengundurkan diri untuk dilupakan seperti kita melupakan yang mati untuk revolusi - Soe Hok Gie

Saya tahu mungkin saya sedikit berlebihan, tapi coba deh kamu baca lagi dengan detil, dengan penghayatanmu yang paling dalam untuk membaca kisah 10 Nopember di buku sejarahmu. Baca kejadian tiap kejadian saat tentara Sekutu memborbardir kota Surabaya dengan puluhan bom pada pagi hari tanggal 10 Nopember 1945. Bacalah lagi tiap detil peristiwa yang terjadi, bagaimana bom menghanguskan kota Pahlawan dan berapa banyak rakyat yang harus gugur di pagi itu. Bayangkan pagi harimu hari ini dengan pagi hari 69 tahun yang lalu. Bayangkan jika kamu berada di pagi 69 tahun yang lalu. Bisakah kamu menjadi salah satu dari ribuan orang yang sekarang kita sebut 'pejuang'? Bahkan saya nggak yakin kalo saya mau dan rela berkorban nyawa demi bangsa ini. 

Ya, sudah 69 tahun yang lalu. Sudah setengah abad yang lalu. Lama sekali. Tapi hasil pengorbanan para pejuang 69 tahun yang lalu masih terasa sampai detik ini. Saya bisa merasakan kebebasan dengan menulis tulisan ini dengan nyaman, di atas kasur empuk dan camilan ringan. Sambil sedikit-sedikit melongok notifikasi Instagram, Facebook dan Line saya. Bahagia kan? Coba bayangkan kalo pejuang dulu menyerah dengan Sekutu? Apa masih bisa saya menuliskan ini semua dan kamu membaca tulisan ini? Apa masih bisa kamu mengecek akun media sosialmu tiap detik?


Setiap pejuang bisa kalah dan terus menerus kalah tanpa kemenangan, dan kekalahan itulah gurunya yang terlalu mahal dibayarnya. Tetapi biarpun kalah, selama seseorang itu bisa dinamai pejuang dia tidak akan menyerah. Bahasa Indonesia cukup kaya untuk membedakan kalah daripada menyerah. - Pramoedya Ananta Toer

Semoga pengorbanan para pejuang tidak sia-sia untuk bangsa ini. Semoga bangsa ini tetap dan akan selalu bisa menjaga nama besarnya dan menghargai jasa pahlawan-pahlawannya. Selamat Hari Pahlawan !