June 28, 2014

Must-Have-Room-In-My-Future-House

Well, hello guys. For this post I'm going to talk about must-have-room-in-my-future-house. As you know that I madly in love at 'reading', so this room gonna be my favorite place on earth. Yep, it is a small library which I can spend my whole time lost in other world. The room that make me forget 'bout the real life. 
I found some inspiration to design my future small library. I am sure you guys won't deny that these library are super cozy and must-have-room. Thanks to Tumblr ! :)












Well, I think those are enough to show you how my future-library would be :) 

June 23, 2014

June 10, 2014

Seminar Pemuda Kreatif Indonesia Berkarya (Cak Priyo)

Hallo, kali ini saya akan menceritakan isi dari seminar Pemuda Kreatif Indonesia Berkarya yang pembicaranya adalah Cak Priyo. Pembahasan yang dibawakan Cak Priyo sedikit berbeda dengan yang dibawakan oleh Pandji. Kali ini Cak Priyo ingin menunjukkan dan menegaskan pada kita, bagaimana menjadi pemuda yang bermanfaat dan berguna. Selain itu, uniknya lagi, Cak Priyo juga menyinggung masalah 'Penutupan Dolly' yang sedang marak di Surabaya. Disini, para peserta seminar diajak berpikir oleh Cak Priyo mengenai permasalahan Dolly.

'Menurutmu, wong tuwomu iku apes lek nduwe anak sing koyok opo?' (Menurut kalian, orang tua dikatakan apes jika memiliki anak seperti apa?), ujar Cak Priyo. Dari pertanyaan itu, Cak Priyo menjelaskan bahwa kita harus menjadi orang yang bermanfaat. Sangatlah rugi bagi pemuda yang hidupnya tidak bermanfaat dan tidak berkontribusi terhadap apapun. Contoh lain, sangatlah rugi Kota Surabaya yang memiliki banyak pemuda jika pemuda-pemuda tersebut tidak pernah berkontribusi pada masyarakatnya. Tidak perlu dalam skala yang sangat besar, cukup dimulai dari lingkungan sekitar saja.

Contoh lain yang coba diberikan Cak Priyo adalah dalam bidang ekonomi. Sebagai pemuda, khususnya  bagi yang beruntung dapat mengenyam pendidikan kuliah, sudah seharusnya bisa memberikan kontribusi yang besar dengan cara menciptakan lapangan pekerjaan. Tidak perlu dimulai dengan usaha yang besar, cukup dimulai dengan usaha kecil-kecilan yang paling tidak dapat menciptakan peluang kerja bagi masyarakat sekitar. Secara tidak langsung, pemuda tersebut dapat mengurangi tingkat pengangguran yang ada di Indonesia.

Pembahasan selanjutnya diisi Cak Priyo dengan tema dolly. Berita penutupan dolly dan pelbagai permasalahannya memang sedang marak saat ini. Cak Priyo mengajak kita berpikir dan berdiskusi mengenai mengapa Dolly harus dan tidak harus ditutup. Penutupan dolly tidak serta merta dapat langsung menyelesaikan masalah. Alih-alih menyelesaikan, penutupan dolly dapat menimbulkan dampak yang buruk bagi masyarakat. Salah satu ketakutan masyarakat akibat ditutupnya dolly adalah munculnya pekerja seks jalanan. Selain itu, sumber penghidupan masyarakat disekitar dolly juga akan terhenti. Coba dipilah-pilah, terdapat profesi apa saja yang ada di sekitar dolly. Sangat disayangkan jika pemerintah kota hanya berfokus pada si pelaku utama kawasan dolly. Selain adanya pekerja seks, di kawasan tersebut juga terdapat warung kopi, tukang becak, pedagang kosmetik dan lain-lain. Lalu apakah terpikirkan bagaimana nasib pedagang-pedagang tersebut?

Cak Priyo juga berpendapat, bahwa persiapan pemkot untuk menutup lokalisasi masih kurang. Masih bersifat sementara. Memang benar pemkot telah memberikan pelatihan-pelatihan(contoh : pelatihan menjahit) dan modal pada para pekerja seks. Tetapi, pemberian modal dan pelatihan tersebut masih belum menjamin kehidupan para pekerja setelah lokalisasi ditutup. Mereka tidak dibekali dimana mereka akan menjualkan dagangannya dan bagaimana mencari pelanggan yang order dagangan mereka nantinya. Dari banyak permasalahan tersebut, bukan berarti dolly tidak bisa ditutup ya. Cak Priyo mengajak diskusi peserta seminar untuk paling tidak membantu pemkot untuk mengatasi masalah penutupan lokalisasi :)

Dari hasil diksusi tersebut, ternyata membuahkan hasil yang memuaskan :). Dua pendapat didapat dari seorang mahasiswa UPN dan seorang mahasiswa PENS (Maaf saya nggak ingat namanya). Menurut mereka, akan lebih baik dan terjamin jika kawasan lokalisasi tersebut dapat dijadikan lahan bisnis. Pengusaha- pengusaha yang memiliki modal dapat membangun pabriknya di kawasan tersebut dan merekrut mantan pekerja seks untuk menjadi karyawan pabrik. Lebih baik lagi jika pemkot dapat memberikan modal kepada pemuda untuk mengembangkan usahanya.


Kurang lebih seperti itulah isi dari semua seminar dengan dua pembicara yang kece-kece ini :D
Semoga bermanfaat, menginspirasi dan menambah wawasan pembaca sekalian.

June 08, 2014

Seminar 'Pemuda Kreatif Indonesia Berkarya' (Pandji Pragiwaksono)

Kemarin, 7 Juni 2014 saya mengikuti sebuah seminar yang diselenggarakan oleh kampus saya Politeknik Elektronika Negeri Surabaya. Seminar ini bertemakan 'Pemuda Kreatif Indonesia Berkarya'. Pembicara yang disuguhkan dalam seminar ini menarik banyak sekali peminat. Bagaimana tidak, Pandji Pragiwaksono dan budayawan, Cak Priyo Aljabar yang akan mengisi seminar kali ini. Sebenarnya, Walikota Surabaya juga turut menjadi pembicara, tetapi karena terdapat urusan lain yang lebih penting, beliau tidak dapat menjadi pembicara di seminar tersebut.

Yang ingin saya ceritakan disini adalah isi dari seminar tersebut. Seminar ini mengambil masalah pemuda yang ada di Indonesia. Bagaimana seharusnya menjadi pemuda yang dapat melakukan sesuatu, paling tidak bermanfaat bagi masyarakat di sekelilingnya. Melirik fenomena yang terjadi di kalangan pemuda yang tidak jauh dari berbagai masalah seputar kenakalan remaja seperti tawuran, konsumsi obat-obatan terlarang dan bahkan dari hal sepele pun seperti mencontek dalam ulangan.

Pembicara pertama dibawakan oleh Pandji Pragiwaksono. 
"Tidakkah menyenangkan bekerja dengan sesuatu yang Anda sukai?", begitu kata Pandji. 
Yang ia maksud disini adalah menemukan passion kita, dan jika kita memang bagus, kita akan naik dan sukses dengan sendirinya. Banyak sekali orang yang sudah menemukan passionnya tetapi tidak dapat hidup dari situ. Kenapa? Karena orang tersebut takut gagal dan malu. Padahal seharusnya, keinginan kita untuk menggapai mimpi itu lebih besar daripada ketakutan kita akan kegagalan. Pandji mengatakan, bahwa gagal adalah hal yang sangat biasa. Memang malu, tapi 'hey you're still alive !'. Cara untuk mengatasi rasa takut gagal itu sendiri adalah dengan menghadapi kegagalan tersebut berulang kali. Karene level kegagalan akan selalu bertingkat sesuai dengan pencapaian yang akan kita dapatkan nantinya. 

Masih berputar pada passion dan mimpi, terdapat permasalahan yang dihadapi oleh pemuda. Mereka terhalang oleh ego orang tua masing-masing yang menginginkan anak-anaknya berada di jalur yang menurut para orang tua adalah jalur terbaik bagi anak-anaknya, sedangkan anak tersebut tidak menyukai jalur itu. Pandji memberi saran dengan menggunakan teori milik Yoris Sebastian, yaitu 70:20:10. 70 lakukan apa yang harus dilakukan, 20 lakukan passionmu dan kembangkan, 10 lakukan hal-hal lain yang belum pernah kita coba. Jika kita bagus di passion kita, maka 20 itu akan berkembang dan bisa jadi menjadi 100 :) . 

Pembahasan selanjutnya adalah mengenai  'Sekolah? Penting Nggak Penting'. Menurut Pandji, masih ada yang salah dengan pendidikan di Indonesia, dan saya setuju dengan itu. Mengapa? Berdasarkan pengalaman dari Pandji dan mungkin juga terjadi pada orang lainnya, sekolah tidak pernah mengapresiasi prestasi atau kemampuan diluar apa yang diajarkan di sekolah.Saya setuju dengan itu. Sekolah cenderung hanya melihat hasil, daripada melihat prosesnya. Terbukti dengan adanya UNAS yang selalu dijadikan standar kelulusan untuk sekolah yang ditempuh dalam waktu 3 tahun. Dan karena kita selalu takut gagal, maka dari sistem seperti itulah dapat melahirkan kecurangan-kecurangan demi meraih kelulusan dengan cara apapun. 

Di luar negeri, terdapat cara berpikir yang disebut 'divergent thinking'. Cara berpikir tersebut adalah bagaimana mencari sebanyak-banyaknya jawaban dari sebuah permasalahan yang ada. Dan cara berpikir tersebut tidak terdapat di Indonesia. Ambil contoh pertanyaan 'Pensil digunakan untuk apa?'. Jawaban yang muncul dari hasil pendidikan Indonesia adalah 'menulis dan menggambar', tetapi tidak bagi yang menggunakan 'divergent thinking'. Akan terdapat banyak sekali jawaban dari hasil cara berpikir 'divergent tersebut. Semisal untuk mengetuk meja, menjadi pembatas buku, untuk melempar teman :P dan lain lain. Dari cara berpikir divergent. thinking akan dihasilkan pemikiran yang kreatif dan out of the box

Ada cerita yang disampaikan oleh Pandji mengenai orang Indonesia yang kurang kreatif dan sangat konsumtif. Begini ceritanya :
"Ada seseorang yang memiliki kebun pisang. Suatu saat ia ingin sekali memakan pisang goreng. Lalu bagaimana cara orang tersebut agar mendapatkan pisang goreng?. Ia menjual pisang-pisangnya tersebut, dan hasil dari penjualan pisang-pisang tersbut, ia gunakan untuk membeli pisang goreng"
Bagaimana? :D Cara berpikir orang Indonesia bisa dianalogikan dengan cara berpikir si pemilik kebun pisang. Padahal bisa jadi orang yang menjual pisang goreng tersebut membeli pisang dari orang yang membeli pisang dari si pemilik kebun.

Tapi jangan serta merta menganggap sekolah tidak penting. Tidak ada yang tidak bermanfaat di dunia ini kok. Sekolah memiliki manfaatnya sendiri. Apa itu? Yaitu mendidik dan membuat sesorang menjadi dewasa. Menurut Pandji, sesorang yang dewasa adalah orang yang mau melakukan hal yang tidak disukainya, tetapi dia harus melakukannya. Dan sekolah mengajarkan itu kepada kita. Selain itu, sekolah juga mengajarkan kita bagaimana hidup displin, karena disiplin itu sangat penting :)

Nah begitulah isi seminar yang saya dapatkan dengan Pandji sebagai pembicaranya. Untuk pembicara Cak Priyo akan ada di posting selanjutnya. Cak Priyo membahas masalah Dolly loh :D

Baca selanjutnya -> Seminar Pemuda Kreatif Indonesia Berkarya (Cak Priyo)