June 18, 2016

[Resensi] Pasung Jiwa oleh Okky Madasari

Judul novelnya udah bikin sedikit ngeri nggak nih?
Well, jujur aja, pertama kali ngambil novel ini dari tumpukan buku obralan, saya tertarik banget baca judulnya. Pikiran pertama saya saat baca judul novel ini adalah 'wah novel ini pasti fantastis banget seperti novel Cantik Itu Luka-nya Eka Kurniawan nih'. Setelah baca judul, langsung deh cus buat baca sinopsis di bagian belakang. Dan yes, saya nggak ragu buat langsung membawanya ke kasir.


Judul Buku : Pasung Jiwa
Penulis : Okky Madasari
Jumlah Halaman: 328


Kesan pertama saya saat selesai baca novel ini adalah beruntungnya saya menemukan novel obral (dengan harga murah) tapi bisa bikin saya ketagihan baca. Nggak butuh waktu lama buat menghabiskan novel ini lho. Cukup 2 malam saja, buku ini sudah habis saya lahap. Eits bukan berarti karena jumlah halamannya yang nggak banyak ya. Tapi memang buku ini nagih banget. Sensasinya mirip sekali seperti saat saya membaca Cantik Itu Luka. 

Dari segi pemilihan kata, Okky Madasari cukup frontal dalam menggunakannya. Kata-kata yang mungkin agak kusruh, nggak ragu buat dia tulis terang-terangan. Saya bacanya aja udah merinding, geli dan ngilu. Selain diksi yang super berani, di buku ini, Okky Madasari juga menggunakan bahasa Jawa Timuran. Maklum, karena salah satu latar tempat dalam cerita adalah di kota Malang. Dan ya, salut banget deh karena penggunaan bahasa Jawa-nya pas dan tepat sekali. Hehe. 
"Sas... Sasana... Iki tenanan awakmu, Sas?" Cak Man yang pertama bertanya.
 Aku tersenyum, sengaja menggoda.

"Sas... Sas, Iki Sasa, Cak. Sasa! seru Cak Jek. 

"Jancuk... edan kowe kabeh!" kata Cak Man sambil tertawa.

Pasung Jiwa, bercerita tentang apa sih?

Lalu, tentang apa sih novel Pasung Jiwa ini? Kok saya bisa-bisanya ketagihan dan baca cuma dalam waktu 2 malam? Oke mari saya ceritakan. 
Agak berbeda dengan novel-novel lain yang saya baca sebelumnya, novel ini ternyata membahas salah satu permasalahan sosial, yaitu tentang LGBT. Yes, LGBT yang sekarang lagi hits banget dibahas itu lho. 

Diceritakan, seseorang bernama Sasana. Anak yang terlahir dari seorang dokter bedah dan penngacara. Yang hidupnya sudah teratur dan terjamin sejak ia lahir. Yang dipastikan akan mendapat masa depan yang gemilang dan tak kurang satu apapun. Tapi dibalik itu semua, ada hal yang Sasana tidak mengerti. Di dalam semua keteraturan hidup dan terjaminnya masa depannya, ia merasa hidupnya terbelenggu dan tidak bebas. Hidup yang ia jalani saat ini bukanlah hidup yang membuat dirinya bahagia. Keanehan-keanehan dalam hati dan pikirannya sudah ia rasakan sejak masih duduk di bangku SD. Dari mulai iri dengan paras cantik dan lucu adik perempuannya, sampai kegemarannya terhadap musik dangdut yang langsung ditolak mentah-mentah oleh kedua orang tuanya. 

Semua keanehan-keanehan yang dialami Sasana, terjawab saat ia mulai duduk di bangku perkuliahan di kota Malang. Di sana, ia bertemu dengan seseorang bernama Cak Jek yang telah ia anggap sebagai kakaknya sendiri. Bersama Cak Jek, Sasana dapat menemukan siapa dirinya, dan hidup seperti apa yang dapat membuat ia bahagia. Sampai suatu tragedi terjadi terhadap dirinya dan Cak Jek. 
Pikiranku ini sebenarnya bukan punyaku. Ini pikiran banyak orang yang kebetulan saja ada dalam diriku
Well, selain bercerita tentang Sasana dalam sudut pandang pertama, novel Pasung Jiwa ini juga menceritakan tentang Cak Jek dalam sudut pandang pertama pula. Bagian awal adalah milik Sasana, dan di bagian kedua adalah milik Cak Jek. Ya, kedua karakter ini bisa dibilang merupakan karakter utama yang coba diceritakan kisah hidupnya. 


Apakah kehendak bebas benar-benar ada?

Kalimat di atas ada dalam sinopsi novel ini. Dan ya, kalimat inilah yang juga jadi salah satu pendorong saya merasa yakin untuk membawa novel ini pulang. Selama ini kita selalu mendengar kata 'BEBAS' digaung-gaungkan. Tapi apakah kita pernah berpikir bahwa, benarkah kita benar-benar bebas? Sepertinya tidak. Sebebas-bebasnya kita, masih terikat oleh yang namanya peraturan, norma dan nilai sosial. Novel Pasung Jiwa ini, secara gamblang membicarakan dan membahas hal tersebut. Kebebasan hanyalah ilusi. Kebebasan, ironisnya adalah apa yang dikehendaki dan dianggap benar oleh masyarakat. 

No comments:

Post a Comment