June 10, 2014

Seminar Pemuda Kreatif Indonesia Berkarya (Cak Priyo)

Hallo, kali ini saya akan menceritakan isi dari seminar Pemuda Kreatif Indonesia Berkarya yang pembicaranya adalah Cak Priyo. Pembahasan yang dibawakan Cak Priyo sedikit berbeda dengan yang dibawakan oleh Pandji. Kali ini Cak Priyo ingin menunjukkan dan menegaskan pada kita, bagaimana menjadi pemuda yang bermanfaat dan berguna. Selain itu, uniknya lagi, Cak Priyo juga menyinggung masalah 'Penutupan Dolly' yang sedang marak di Surabaya. Disini, para peserta seminar diajak berpikir oleh Cak Priyo mengenai permasalahan Dolly.

'Menurutmu, wong tuwomu iku apes lek nduwe anak sing koyok opo?' (Menurut kalian, orang tua dikatakan apes jika memiliki anak seperti apa?), ujar Cak Priyo. Dari pertanyaan itu, Cak Priyo menjelaskan bahwa kita harus menjadi orang yang bermanfaat. Sangatlah rugi bagi pemuda yang hidupnya tidak bermanfaat dan tidak berkontribusi terhadap apapun. Contoh lain, sangatlah rugi Kota Surabaya yang memiliki banyak pemuda jika pemuda-pemuda tersebut tidak pernah berkontribusi pada masyarakatnya. Tidak perlu dalam skala yang sangat besar, cukup dimulai dari lingkungan sekitar saja.

Contoh lain yang coba diberikan Cak Priyo adalah dalam bidang ekonomi. Sebagai pemuda, khususnya  bagi yang beruntung dapat mengenyam pendidikan kuliah, sudah seharusnya bisa memberikan kontribusi yang besar dengan cara menciptakan lapangan pekerjaan. Tidak perlu dimulai dengan usaha yang besar, cukup dimulai dengan usaha kecil-kecilan yang paling tidak dapat menciptakan peluang kerja bagi masyarakat sekitar. Secara tidak langsung, pemuda tersebut dapat mengurangi tingkat pengangguran yang ada di Indonesia.

Pembahasan selanjutnya diisi Cak Priyo dengan tema dolly. Berita penutupan dolly dan pelbagai permasalahannya memang sedang marak saat ini. Cak Priyo mengajak kita berpikir dan berdiskusi mengenai mengapa Dolly harus dan tidak harus ditutup. Penutupan dolly tidak serta merta dapat langsung menyelesaikan masalah. Alih-alih menyelesaikan, penutupan dolly dapat menimbulkan dampak yang buruk bagi masyarakat. Salah satu ketakutan masyarakat akibat ditutupnya dolly adalah munculnya pekerja seks jalanan. Selain itu, sumber penghidupan masyarakat disekitar dolly juga akan terhenti. Coba dipilah-pilah, terdapat profesi apa saja yang ada di sekitar dolly. Sangat disayangkan jika pemerintah kota hanya berfokus pada si pelaku utama kawasan dolly. Selain adanya pekerja seks, di kawasan tersebut juga terdapat warung kopi, tukang becak, pedagang kosmetik dan lain-lain. Lalu apakah terpikirkan bagaimana nasib pedagang-pedagang tersebut?

Cak Priyo juga berpendapat, bahwa persiapan pemkot untuk menutup lokalisasi masih kurang. Masih bersifat sementara. Memang benar pemkot telah memberikan pelatihan-pelatihan(contoh : pelatihan menjahit) dan modal pada para pekerja seks. Tetapi, pemberian modal dan pelatihan tersebut masih belum menjamin kehidupan para pekerja setelah lokalisasi ditutup. Mereka tidak dibekali dimana mereka akan menjualkan dagangannya dan bagaimana mencari pelanggan yang order dagangan mereka nantinya. Dari banyak permasalahan tersebut, bukan berarti dolly tidak bisa ditutup ya. Cak Priyo mengajak diskusi peserta seminar untuk paling tidak membantu pemkot untuk mengatasi masalah penutupan lokalisasi :)

Dari hasil diksusi tersebut, ternyata membuahkan hasil yang memuaskan :). Dua pendapat didapat dari seorang mahasiswa UPN dan seorang mahasiswa PENS (Maaf saya nggak ingat namanya). Menurut mereka, akan lebih baik dan terjamin jika kawasan lokalisasi tersebut dapat dijadikan lahan bisnis. Pengusaha- pengusaha yang memiliki modal dapat membangun pabriknya di kawasan tersebut dan merekrut mantan pekerja seks untuk menjadi karyawan pabrik. Lebih baik lagi jika pemkot dapat memberikan modal kepada pemuda untuk mengembangkan usahanya.


Kurang lebih seperti itulah isi dari semua seminar dengan dua pembicara yang kece-kece ini :D
Semoga bermanfaat, menginspirasi dan menambah wawasan pembaca sekalian.

No comments:

Post a Comment