Siapa sih yang nggak suka tampil keren? Semuanya pasti suka lah, termasuk saya. Hehe. Well, kali ini saya mau share sedikit cerita tentang hubungan saya dengan jam tangan dan keren. Jujur aja, sejak saya masih duduk di bangku SD, saya udah mikirin gimana supaya tampil keren. Percayalah !. Dan salah satu usaha saya buat terlihat dan merasa keren adalah memakai jam tangan. Iya !. Saat anak-anak lain cuma sekedar tahu baju baru dan sepatu baru, saya udah kenal sama yang namanya jam tangan baru. Keren kan?
Memakai gadget sudah merupakan sebuah kebutuhan yang HQQ alias nggak bisa ditawar lagi. Karena sering dipakai, maka nggak heran kalau terkadang gadget yang kita pakai bisa nggondok alias tiba-tiba rusak dan nge-hang. Hal ini terjadi pada saya beberapa hari yang lalu. Mari kita mulai curhatnya.
Jadi, hape saya ini udah berumur 2 tahun lebih dan alhamdulillah nggak ada masalah sama sekali. Beberapa bulan setelah saya beli hape ini, barulah saya membeli sebuah kartu memori berkapasitas 32GB Class 10 merk Sandisk. Selama pemakaian selalu baik-baik saja. Bahkan banyak file-file lama yang saya simpan di kartu memori ini karena saya pikir memori ini punya kapasitas yang cukup besar.
Apa jadinya kalau kamu bisa masuk ke mimpi seseorang? Mungkin hal itu adalah berkah sekaligus kutukan. Dan bagi Janie Hannagan, hal ini lebih menjadi kutukan di dalam hidupnya.
Akhirnyaaa setelah setahun kemarin banyak bolongnya buat baca buku, tahun ini berhasil menyelesaikan satu trilogy. Yah meskipun bukunya hanya setebal sekitar 200 halaman aja, tapi ini adalah kemajuan. Hehe.
Jadi ceritanya, saya habis menyelesaikan Trilogi Wake, dimana masing-masing bukunya berjudul Wake, Fade, Gone. Saya membeli boxset buku ini dengan harga yang sangat murah karena memang lagi diobral (maafkan saya penulis. Saya sukanya buku obralan. Hiks).
Judul novelnya udah bikin sedikit ngeri nggak nih?
Well, jujur aja, pertama kali ngambil novel ini dari tumpukan buku obralan, saya tertarik banget baca judulnya. Pikiran pertama saya saat baca judul novel ini adalah 'wah novel ini pasti fantastis banget seperti novel Cantik Itu Luka-nya Eka Kurniawan nih'. Setelah baca judul, langsung deh cus buat baca sinopsis di bagian belakang. Dan yes, saya nggak ragu buat langsung membawanya ke kasir.
Tanggal 9 November lalu, saya nggak sengaja nonton film India (iya nggak sengaja). Pemeran utamanya Shah Rukh Khan. Judul filmnya Swades. Sebagai penggemar Shah Rukh Khan dan hampir selalu menonton semua filmnya, film yang satu ini ternyata luput. Film yang dirilis tahun 2004 ini ternyata layak tonton banget. Tapi sebelumnya buang jauh-jauh pemikiran kamu yang menganggap film India cuma berisi tentang cinta-cintaan.
![]() |
| Source |
Sekarang ini banyak banget bertebaran media sosial selain Facebook. Media-media sosial tersebut tentunya punya banyak fitur-fitur yang membuat media sosial tertentu jadi spesial. Contohnya kayak Twitter, di mana kamu bisa bercuap-cuap semaumu dengan menggunakan 140 karakter. Atau, media sosial favorit saya yang satu ini, Instagram. Yap, Instagram udah jadi favorit saya banget karena di Instagram saya bisa melihat banyak foto-foto bagus yang menginspirasi. Dan tentunya, saya juga bisa meng-upload hasil jepretan saya sendiri.
Setelah beberapa lama buku ini tak tersentuh dengan masih terbungkus rapi oleh plastik, akhirnya saya pun memutuskan untuk membacanya. Yep, another dystopia series.
Well, kali ini saya akan membahas novel yang 75% saya habiskan hanya dalam waktu 1 hari saja. Ternyata ceritanya sangat seru dan yeah novel ini membawa saya kembali merasakan euforia saat membaca The Hunger Games, 4 tahun yang lalu.(Dimana perasaan itu nggak saya dapatkan saat membaca Divergent, The Maze Runner, dan The 5th Wave).
Halo semua, saya balik lagi. Kali ini saya mau cerita sesuatu nih. Buat kamu-kamu yang seumuran sama saya, terutama buat yang cewek-cewek nih, pasti deh pikirannya nggak jauh-jauh dari 'nikah', ya nggak? Iyain aja deh. Hehe. Kalo nggak percaya, sekarang coba deh inget-inget lagi kalo kamu lagi nongkrong sama temen-temenmu. Pasti nih, salah satu topik tentang jodoh atau nikah bakal terbahas. Hehe. Ya kan? Eh tapi nggak cuma cewek aja lho. Soalnya yang cowok juga nggak menutup kemungkinan pasti bahas masalah yang sama juga.
Hallo!
Sudah sebulan lebih ya ternyata saya nggak nulis. Hehe. Soalnya saya lagi nggak tertarik nulis tentang apa-apa. Tapi kali ini saya mau cerita tentang satu novel karya Pramoedya Ananta Toer yang berjudul Bumi Manusia. Novel ini baru saja selesai saya baca dan menjadi novel ke 14 yang saya baca di tahun ini.
Buku ke-6 yang sayang baca di 2015 Reading Challenge dari Goodreads berjudul Amy and Roger's Epic Detour. Buku ini memang sudah menjadi wishlist saya sejak lama. Dan alhamdulillahnya, saya nggak perlu buat beli buku ini lho. Saya minjem teman saya, Hesti. Hehehe.
Entahlah kenapa saya lagi pingin banget buat review buku ketiga yang saya baca di tahun 2015 ini. Buku ini saya dapatkan di acara Surabaya Book Fair yang diselenggarakan di tahun 2014 kemarin. Meskipun pada awalnya saya nggak terlalu mengharapkan buku ini, tapi ternyata setelah saya baca sampai habis, hmm sepertinya melebihi ekspektasi saya.
Di tahun 2014 kemarin, saya berhasil menyelesaikan Reading Challenge 2014 dari Goodreads dengan berhasil membaca 16 buku dalam setahun. Sebenarnya sih saya hanya memasang target 10 buku saat itu, tapi alhamdulillah ternyata bisa sampai 16 buku. Nah di tahun 2015 ini, saya kembali mengikuti Reading Challenge yang diadakan oleh Goodreads. Kamu bisa melihatnya di widget yang saya pasang di blog saya. Untuk tahun ini, saya menargetkan 20 buku, berpatokan dari jumlah buku yang bisa saya baca di tahun lalu.
Buku pertama yang berhasil saya selesaikan adalah buku berjudul Gone Girl. Buku ini adalah hadiah ulang tahun saya yang ke-21 dari sahabat-sahabat saya. Tahu banget kalo saya pingin banget baca buku itu. Gone Girl ini udah diadaptasi ke dalam sebuah film lho. Hehe.
Buku ke-2 yang saya selesaikan di Reading Challenge 2015 adalah buku berjudul The Geography of Bliss. Sebelumnya saya nggak tahu menahu tentang buku ini dan nggak masuk ke dalam wishlist saya. Tapi saat saya jalan-jalan ke TBMO, saya nggak sengaja menemukan buku ini di rak bagian travelling. Karena tertarik, akhirnya saya membelinya.
Saya kembali. Hihi.
Kali ini saya mau sedikit cuap-cuap dengan buku yang baru aja saya baca. Sebelumnya saya nggak tahu menahu sama sekali dengan buku ini, Tapi berkat lagi-lagi teman saya Ucik, saya jadi penasaran sama buku ini dan akhirnya baca deh. Mengingat harga bukunya yang yaah nggak terlalu mahal lah. Apalagi buku ini tergolong buku motivasi. Ya, saya memang lagi butuh motivasi. Hehe.
Judul Buku : Steal Like An Artist - 10 Things Nobody Told You About Being Creative
Penulis : Austin Kleon
Penerbit : Noura Books
Halaman : 160 halaman
Langsung aja ya, buku ini berjudul Steal Like An Artist yang ditulis oleh Austin Kleon. Bentuk bukunya agak beda ya sama buku-buku pada umumnya yang bentuknya persegi panjang. Kamu bisa lihat kalo buku ini punya bentuk bujur sangkar sempurna. Haha. Dengan warna dasar hitam dan ada kombinasi warna putih dan kuning. Apalagi font judul buku yang dipakai, dijamin bisa bikin kamu tertarik. Nggak lupa, di bagian kaver juga ada cap New York Times Bestseller, yang mana cap itu nggak pernah gagal buat bikin saya membeli buku yang memilikinya. Pokoknya selama ini saya nggak pernah dikecewakan sama buku yang ada cap NYT Bestseller-nya.
Hallo, long time no see ya. Sudah hampir sebulan nggak posting. Maklum lagi sakit. Jadi masih nggak mood gitu buat nulis. Oke deh langsung aja. Sebenarnya tulisan ini saya bikin buat pelatihan tadi siang di kantor. Yah daripada nggak dipake mending saya posting aja disini yak.
Expelliarmus! Kangen nggak sama Harry Potter? Tapi kamu nggak usah khawatir, soalnya sang penulis, JK Rowling masih aktif kok menulis serba serbi Harry Potter. Untuk memperingati Halloween (yaelah udah lewat banget yak =) ), JK Rowling telah merilis kisah pendek tentang mantan guru Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam di Hogwarts yang suka banget sama warna pink dan kucing. Yap, siapa lagi kalo bukan Dolores Umbridge yang sadis.
Karakter Dolores Umbridge terinspirasi dari mantan guru JK Rowling
Eh, kamu tahu nggak sih, kalo karajter Dolores Umbridge itu terinspirasi dari orang nyata. Orang itu adalah mantan gurur JK Rowling sendiri lho. JK Rowling sih nggak mau nih mengungkap identitas orang tersebut. Yang pasti menurut penulis berumur 49 tahun ini, orang tersebut tau kalo dia adalah inspirasi Rowling dalam menciptakan karakter Dolores Umbridge. Tapi nih, kesamaan yang dimiliki oleh mantan guru JK Rowling dengan Dolores Umbridge hanya sebatas aksesoris yang dikenakan saja ya. Sifat-sifat jahatnya? Yap itu adlah sifat alaminya sebagai pendukung Lord Voldemort.
Well, sebenernya tulisan ini telat nulisnya. Hehe... Tapi nggak papa lah. Nggak telat-telat banget kok. Jadi hari Kamis (13/11) saya pergi ke Surabaya Book Fair. Saya tahu event ini kalo nggak salah dari grup What's App Klub Buku Surabaya. Saya udah nungguin sejak H-7 hari Surabaya Book Fair. Jelas aja saya menanti-nanti. Tahu sendiri kalo saya hobi banget baca. Hihi. Itung-itung di Surabaya Book Fair bakalan banyak buku murah meriah. Ini nih penampakan posternya.
| Poster Surabaya Book Fair 2014 |
Pulang kerja, saya langsung cus aja ke lokasi. Event ini diselenggarakan di Jatim Expo Surabaya. Dengan berbekal sedikit uang, saya pede aja dateng. Sesampainya disana, ekspektasi saya ketinggian nih. Yang saya kira event ini bakalan rame serame acara ICE (Indie Clothing Expo) sepekan sebelumnya, eh event ini bisa dibilang sepi. Yah ada sih pengunjung, tapi nggak bisa saya sebut rame. Entahlah, itu karena timing saya yang nggak tepat datengnya, atau event yang digelar selama seminggu itu tiap hari pengunjungnya segitu-gitu aja. Atau mungkin lagi memang nggak bisa dibandingin sama ICE, karena perbedaan lamanya event yang diselenggarakan. Dua hari dan enam hari. Tapi kalo lihat sepinya, miris deh. Bukan penyelenggara event yang kurang promosi, wong buktinya saya aja tahu infonya. Disana juga banyak banget stand dari berbagai penerbit. Terus ada juga panggung dan kursi yang disediakan untuk mengisi acara dan seminar-seminar, nggak lupa juga ada sudut foodcourt disitu. Harga bukunya? Udah murah kok dibandingkan dengan yang ada di toko-toko buku. Kurang apa coba ya? Setelah ditelisik lebih jauh, anggapan saya jatuh pada 'bahwa budaya membaca di kota Surabaya tercinta ini masih kurang'. Walaupun semisal nih, disana orang-orang nggak menemukan buku yang diinginkan, setidaknya kalo mereka suka baca, pasti deh menyempatkan diri buat dateng ke event itu. Ah tapi entahlah, saya sendiri hanya dateng sekali di event itu. Dan bertahan disitu cuma 2 jam. Soalnya udah ada janji lain,
Buku-buku yang dijual disana macam-macam. Tapi mungkin kamu akan kesulitan menemukan buku-buku terbitan GPU atau Mizan yang khas dengan novel-novel fiksi yang selalu jadi bestseller. Disana lebih banyak stand buku yang menjual buku-buku agama. Jadi buat kamu yang mau hunting buku-buku seputar Agama Islam, saya rekomendasikan buat pergi kesana. Nah, buat kamu yang juga suka sama sejarah, apalagi sejarah Indonesia jaman orde baru, orde lama maupun reformasi, kamu juga bisa dateng kok. Ada satu stand yang menjual buku-buku sejarah. Saya sebenernya tertarik buat beli, tapi apa daya kantong udah tipis. Miris. Nggak melulu buku agama dan sejarah, ada juga beberapa stand yang menjual novel-novel fantasi ataupun chicklit yang biasanya saya baca.
Walaupun dompet tipis dan miris, alhamdulillah yah saya nggak pulang dengan tangan kosong. Saya membeli 3 buku dengan harga yang sangat murah. Ini dia 3 penampakan buku yang saya beli.
| All the Single Ladies - Jane Castello |
Saya tertarik beli buku ini bukan dari kavernya kok. Tapi saya baca sinopsis cerita di balik bukunya. Saya memang penggemar bacaan berat yang bikin tegang macam Divergent atau The Hunger Games. Tapi kadang baca buku-buku itu juga bikin lelah hati dan pikiran. Biasanya saya bakal merilekskan diri dengan membaca buku-buku semacam ini. Cerita yang girly dan unyu abis :3. Harga buku ini cukup Rp 10.000,- aja.
| Misteri Kematian Poe - Matthew Pearl |
Selanjutnya adalah buku berjudul Misteri Kematian Poe. Saya tertarik mengambil buku ini awalnya gara-gara lihat tulisan Edgar Allan Poe di kavernya. Saya nggak asing sama nama itu. Pokoknya nama orang beken. Hehe. Setelah saya gugling, ternyata Edgar Allan Poe ini adalah seorang penulis Amerika di abad 19. Nah kan makanya saya nggak asing, ternyata penulis toh. Selain nama Edgar Allan Poe, seperti kebiasaan saya kalo sebelum beli buku selalu baca sinopsis di balik buku, dar situ saya tahu kalo ini adalah buku tentang detektif. Okay, worth it to buy. Harganya? Cukup Rp 20.000,- aja. Masih baru dan terbungkus rapi.
| The Summoning - Kelley Armstrong. |
Kalo kamu rajin ke toko buku, apalagi ke Gramedia, kamu pasti sering banget liat buku ini di bagian novel fiksi. Nah kemarin saya lihat buku ini dan nggak ragu buat langsung beli. Kayaknya buku ini cuma satu-satunya deh, sama kayak buku Misteri Kematian Poe. Soalnya saya cuma menemukan satu. Selain itu, dari dulu saya selalu tertarik sama buku yang di kavernya ada tulisan New York Times Bestseller. Nggak tau kenapa. Mungkin kalo udah ada label itu di kaver, seenggaknya ceritanya nggak akan mengecewakan. Semoga. Harganya jauh banget murahnya daripada di toko-toko buku lho. Disini cuma Rp 20.000,-. Tapi ya tanpa plastik dan keadaan buku nggak sebaru yang ada di toko buku.
Nah itu tadi sedikit sharing saya saat berkunjung ke Surabaya Book Fair. Event ini digelar dari tanggal 11 November sampai 16 November. Jadi buat kamu yang belum sempat dateng atau gara-gara baca tulisan ini jadi penasaran, masih ada kesempatan buat dateng di tanggal 16 ini. Tapi kalo baca tulisan sayanya telat, ya udah ikhlasin aja. :)
Tips dari saya, kamu harus sabar dan teliti buat cari-cari buku yang menurutmu worth to buy. Contohnya kayak saya yang nggak nyerah buat menemukan ketiga buku ini.
Diceritakan di suatu pagi, seorang lelaki sedang berpakaian. Sepertinya ia akan pergi bekerja. Mengenakan kemeja lengkap dengan dasi, celana kain dan sepasang sepatu fantofel, terlihat rapi sekali. Sebelum berangkat, ia membangunkan anaknya untuk berpamitan. Tak lupa ia mencium kening anaknya itu. Sambil membawa sebuah tas jinjing dan melengkapi pakaian rapinya dengan jas dan dengan diantar oleh sebuah mobil pick-up, ia pun pergi menuju tempatnya bekerja.
Bukannya bermain dengan teman-temannya, si anak ayah hanya duduk-duduk. Dengan murah hati, ia juga membagi sedikit makanannya dengan teman-temannya itu. Entah apa yang sedang ada dalam pikirannya. Mungkin ia hanya ingin duduk saja seharian sambil menunggu ayahnya kembali dari bekerja. Sesekali ia bermain ayunan, sendirian.
Sampai di tempatnya bekerja, si ayah segera menggelar sebuah kain. Diletakkannya tas yang sedari rumah ia jinjing. Ia mulai berganti pakaian. Dasi dan kemeja rapi yang ia gunakan, ia tukar menjadi sebuah kaos berwarna gelap berlengan panjang yang lusuh. Celana kain yang ia kenakan juga ia ganti dengan celana kargo yang tak kalah lusuh dengan kaosnya. Sepatu pantofel hitamnya digantikan oleh sepatu boots anti air. Ia pun menjelma menjadi, hmm entahlah, bukan pekerja kantoran seperti saat ia berangkat tadi.
Terlihat sebuah topi rajut berwarna abu-abu, ah itu topi putih, sepertinya memang sudah sangat kotor hingga warnanya berubah abu-abu. Topi itu dikenakan oleh si ayah. Di bawah terik matahari ia pun berdiri di sebuah lapangan luas dikelilingi bukit-bukit tumpukan sampah. Tanah yang dipijaknya tak lain adalah tumpukan sampah yang sudah memadat. Sambil memanggul sebuah karung besar, ia pun dengan teliti memilah sampah-sampah yang bisa ia ambil.
Di sela-sela pekerjaanya itu, ia menemukan sebuah mainan. Entahlah semacam replika sebuah hewan berkaki empat berwarna coklat. Mungkin sapi. Lucu sekali. Sambil tersenyum ia meneliti barang mungil itu.
Senja pun tiba. Si anak segera menuju ke tempat ia akan melihat ayahnya pulang dari bekerja. Tak salah, dari ujung jembatan tempatnya berdiri, ia dapat melihat ayahnya berjalan dari ujung jembatan lainnya. Sama seperti saat terakhir kali ia melihat ayahnya berangkat bekerja tadi pagi. Lengkap dengan kemeja, dasi, jas, celana kain, sepatu pantofel hitam dan sebuah tas yang selalu ayahnya jinjing. Mereka pun segera berlari agar dapat saling menyambut. Senyum mengembang di wajah mereka berdua.
Berjalan pulang, si ayah menggendong anaknya. Si anak bahagia mendapat mainan sapi-sapian lucu berwarna coklat, Senyum tak henti-hentinya mengembang di wajah mereka berdua.
When you've been fighting for it all your life
You've been struggling to make things right
That's how a superhero learns to fly
Well, cerita yang barusan saudara-saudara baca itu adalah cerita dari video klip sebuah grup band kondang yang saya suka. Grup band yang lahir di Irlandia ini emang nggak pernah gagal manjain telinga saya. Mulai dari lagu The Man Who Can't Be Moved-nya, Breakeven sampe lagu yang video klipnya bikin mata sembab gini.
Judul lagu dari video klip yang mengharukan ini adalah 'Superheroes' . Kalo kamu suka sama lagu-lagu macam Counting Star-nya One Republic, saya jamin kamu juga bakalan suka banget sama lagu yang ini. Berterimakasih kepada timeline Path saya yang udah menuntun saya menemukan lagu keren ini. Saya kira temanya bakalan cinta-cintaan seperti lagu The Script sebelumnya. Eh tapi ternyata temanya keren begini. Liriknya juga menginspirasi dan membuat orang sadar, bahwa semua yang kita pengenin memang harus diperjuangkan. Dan perjuangan itu memang nggak mudah. Tapi suatu saat, rasa sakit dari perjuanganmu akan berubah menjadi sesuatu yang menguatkanmu esok hari.
Every day, every hour
Turn the pain into power
Oke sudah cukup saya berbasa-basinya. Pasti udah penasaran kan kayak apa lagunya, dan kayak gimana sih video yang saya nobatkan mengharukan ini. Check it out.
Setelah berpetualang dengan Thomas dan kawan kawan di trlogi Maze Runner, pilihan saya selanjutnya jatuh kepada novel chicklit yang berjudul Reality TV Bites. Yah genre yang sangat berbeda jauh sebenarnya. Tapi saya memang butuh sedikit pengenduran syaraf setelah membaca trilogi Maze Runner. Hehehe..
Judul Buku : Reality TV Bites - Reality Show Gila
Penulis : Shane Bolks
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Halaman : 416 halaman
Allison Holloway sangat menyukai acara reality show, Dari kecil, impiannya adalah menjadi seorang putri. Hingga akhirnya kedua hal tersebut terwujud. Dia menjadi salah satu peserta dari sebuah acara reality show Kamikaze Makeover, dan bertemu dengan seorang pangeran bernama Nicolo Parma.
Awalnya semua berjalan sempurna, hingga ia mulai menjadi bintang reality show. Ternyata acara reality show yang sangat digemarinya sangat menyebalkan. Semua detil kehidupannya harus diliput, bahkan kisah asmaranya dengan Nicolo Parma si Pangeran Menyebalkan dan produser Kamikaze Makeover yang tidak berjalan mulus juga menjadi bahan liputan. Kemunculan Dave dengan pacar barunya juga turut merusak hidupnya.
Masalah bertubi-tubi datang menghampiri Allison, hingga sampailah di titik dimana kehidupannya jungkir balik. Allison harus kehilangan pekerjaannya sebagai interior designer di Interior by M dan dipermalukan di TV. Butuh beberapa saat bagi Allison untuk menyadari semuanya dan mulai menghadapi kenyataan sesungguhnya. Dave datang lagi di kehidupannya dan membantu Allison memperbaiki diri.
Saya sarankan buku ini hanya boleh dibaca bagi yang berumur 17+. Terdapat beberapa adegan cerita yang sedikit liar. Sukses bikin merinding loh :p
The end of this book is a typical romance story, happily ever after, yah meskipun bukan dengan seseorang yang disangka di awal cerita. Kekurangan dari buku ini yang sangat mengganggu saya adalah, saat membaca saya selalu bingung siapa yang sedang berbicara. apakah si Allsion, atau lawan bicaranya, ataukah orang lain lagi? Karena sebelumnya saya belum pernah mengalami hal ini saat membaca buku. Hahaa. Entahlah mungkin itu hanya dari perspektif saya saja. Bagaimana dengan pembaca lain? Silakan beri komentar :)
Rating : ★★★★★
Masalah bertubi-tubi datang menghampiri Allison, hingga sampailah di titik dimana kehidupannya jungkir balik. Allison harus kehilangan pekerjaannya sebagai interior designer di Interior by M dan dipermalukan di TV. Butuh beberapa saat bagi Allison untuk menyadari semuanya dan mulai menghadapi kenyataan sesungguhnya. Dave datang lagi di kehidupannya dan membantu Allison memperbaiki diri.
"Aku memberitahu Sheila bahwa menjadi kaya atau terkenal tidak akan membuatmu bahagia kalau kau tidak bahagia dengan dirimu di sini terlebih dahulu." - Jeb, Reality TV BitesBuku ini diceritakan dari sudut pandang pertama. Buku ini memiliki alur maju. Pembaca diajak untuk menjadi seorang Allison Holloway, seorang interior designer yang memiliki gaya hidup high class dan masa lalu yang sedikit kelam. Pembaca juga dapat menyelami pikiran Allison dan cara berpikir seorang Allison. Saya cukup puas dengan jalan cerita buku ini. Terdapat kejutan-kejutan kecil dengan jalan cerita yang sedikit sulit ditebak (seperti perasaan Dave terhadap Allison). Selain itu ada juga pelajaran-pelajaran kecil yang dapat diambil dari kehidupan Allison (silakan baca quotes diatas :) )
Saya sarankan buku ini hanya boleh dibaca bagi yang berumur 17+. Terdapat beberapa adegan cerita yang sedikit liar. Sukses bikin merinding loh :p
The end of this book is a typical romance story, happily ever after, yah meskipun bukan dengan seseorang yang disangka di awal cerita. Kekurangan dari buku ini yang sangat mengganggu saya adalah, saat membaca saya selalu bingung siapa yang sedang berbicara. apakah si Allsion, atau lawan bicaranya, ataukah orang lain lagi? Karena sebelumnya saya belum pernah mengalami hal ini saat membaca buku. Hahaa. Entahlah mungkin itu hanya dari perspektif saya saja. Bagaimana dengan pembaca lain? Silakan beri komentar :)
Rating : ★★★★★
Well, setelah lebih dari 2 bulan, akhirnya saya bisa juga menyelesaikan buku ini, Tuhan Sang Penggoda. Sebelumnya saya juga telah me-review setengah dari buku tersebut di postingan ini Tuhan Sang Penggoda.. Nah setengah buku selanjutnya tetap menceritakan uneg-uneg si penulis dan kejadian sehari-hari yang dapat memberi kita pencerahan dan merenungi hidup.
![]() |
| Buku Tuhan Sang Penggoda |
Judul Buku : Tuhan Sang Penggoda
Penulis : M. Arief Budiman
Penerbit : Galang Press
Halaman : 296 halaman
Ada 2 tulisan yang saya sangat suka pada bagian ketiga - Mencari Rumah Tuhan, di buku ini, yaitu saat penulis mencurahkan uneg-unegnya mengenai Idul Adha dan film Titanic. Ya pada bagian ketiga ini, si penulis memberikan uneg-unegnya yang berhubungan dengan Sang Pencipta.
Catatan dengan judul 'Idul Adha dan Kambing di Hati Kita' yang ditulis pada tanggal 7 April 1998 ini memberikan pukulan telak bagi diri saya. Di catatan ini disadarkan bahwa tak ada yang perlu kita lakukan pada Tuhan, tapi semuanya hanya perlu kita lakukan untuk diri kita sendiri. Tuhan tidak pernah membutuhkan apapun dari makhluknya, tapi makhluknya-lah yang membutuhkan diriNya. Di dalam catatan ini, dianalogikan oleh si penulis dengan berkurban kambing atau sapi pada Hari Raya Idul Adha. Bukan dengan hanya berkurban saat 10 Dzulhijjah saja, tapi ya harus terus selalu berkurban. Eits, bukan berkurban kambing dan sapi, yang dimaskudkan berkurban adalah mengorbankan gaya hidup, mentalitas, iman, dan tanggung jawab. Seperti kata-kata ini nih yang dibuat oleh si penulis :
Tuhan nggak butuh apa saja yang kita korbankan. Dia bisa menciptakan segala sesuatu yang jauh lebih besar, lebih bagus, lebih dahsyat hanya dalam hitungan seperti tak terhingga detik.
Catatan selanjutnya berjudul 'Betapa Rapuhnya Manusia' yang ditulis pada tanggal 12 April 1998. Catatan ini membahas tentang tragedi kapal Titanic. Pasti hampir semua dari kita pernah menyaksikan film Titanic. Diceritakan bahwa pada saat Titanic dibuat, Titanic dikukuhkan sebagai kapal yang tidak akan pernah tenggelam. Manusia terlalu sombong pada saat itu hingga berani melupakan kebesaranNya.
Setiap benih kesombongan telah membawa serta karma kehancuran sebagai imbangannya.
Secara pesan dan pelajaran yang ada dalam buku ini tidak perlu dikomentari karena memang sangat menyadarkan dan dapat menjadi perenungan bagi pembacanya. Tapi saya terganggu dengan banyaknya typo pada buku ini atau bahkan hilangnya spasi antar kata pada sebaris kalimat ._. Terlalu banyak untuk ukuran sebuah buku yang telah diterbitkan dan pasti banyak dibaca orang. Harapan saya semoga jika dicetak lagi, kesalahan ini bisa minim atau bahkan hilang.
Well, terimakasih ilmu dan pengalaman penulis, sangat menajdi bahan renungan bagi saya sendiri. Buku ini bermanfaat. Tulisan pada kaver jelas terbukti, truly inspired.
Hari ini saya akan melanjutkan review beberapa buku yang saya baca untuk Reading Challenge Goodreads. Kali ini saya akan membahas 2 buku saja yaaa. Dua buku yang selanjutnya yang saya baca adalah Wuthering Heights dan Allegiant.
Wuthering Heights
Awalnya saya tertarik terhadao buku ini karena banyak direkomendasikan di beberapa artikel mengenai buku-buku bagus yang wajib dibaca. Buku ini merupakan novel klasik yang diterbitkan pada tahun 1847. Buku ini merupakan karya satu-satunya yang ditulis oleh penulisnya, Emily Bronte. Nah karena umur buku ini yang terhitung tua, itulah alasan utama saya sangat penasaran dan ingin membaca buku ini.
![]() |
| Novel Wuthering Heights |
Buku ini menceritakan kisah cinta tak berbalas antara Heathcliff dan Catherine yang berujung pada penderitaan yang harus dihadapi oleh keduanya. Berlanjut pada anak-anak mereka yang turut serta menanggung penderitann mereka.
Awalnya saya cukup kaget membaca novel ini karena dialog-dialog yang diucapkan oleh karakter-karakter dalam buku benar-benar kasar. Berisi umpatan-umpatan yang sangat tidak sopan, bahkan ditujukan pada anak-anak. Belum pernah sekalipun saya membaca buku dengan bahasa sekasar itu. Tetapi memang dari dialog-dialog yang disajikan sangat mendukung dengan emosi yang ingin disampaikan oleh penulis kepada pembaca. Buku ini sangat gelap. Saya sempat mengalami stress karena tidak tahan dengan tindakan dan perkataan kasar para karakter yang ada di dalam buku. Serius !
Buku ini juga telah beberapa kali diadaptasi menjadi sebuah film. Tapi saya belum pernah sekalipun menonotn filmnya. Hehee.
Allegiant
Buku ini merupakan seri terkahir dari trilogi Divergent. Yap jika ditotal saya menyelesaikan trilogi ini cukup dalam waktu tidak kurang dari seminggu. Veronica Roth sukses membuat saya sangat penasaran dan nggak mau berhenti untuk melanjutkan lagi dan lagi.
Seri terkahir ini merupakan seri pamungkas yang mengungkapkan segalanya mengenai dunia Tris. Baik itu mengenai istilah divergent sendiri, lalu mengapa ada faksi-faksi, rahasia apa yang ada diluar pagar, rencana-rencana factionless, semua terungkap di Allegiant.
| Novel Allegiant, seri terakhir trilogi Divergent |
Ending yang diberikan dalam buku ini memang sangat twist. Tidak berbeda jauh dengan seri terakhir trilogi The Hunger Game yang menampilkan Distrik 13 sebagai twist cerita, karena sangat tidak disangka-sangka. Agaknya memang konsep cerita masih bisa saya katakan sama, distrik dengan faksi, pemberontakan, walaupun detil-detil yang diberikan memang memiliki ciri masing-masing dan dapat menonjolkan karakter cerita masing-masing. Selain itu Suzanne Collin dan Veronica Roth memiliki pandangan yang berbeda mengenai akhir sebuah cerita. Bagi yang sudah membaca kedua trilogi tersebut pasti mengetahi perbedaan pandangan kedua penulis tersebut yang terlihat dalam penyelesaian akhir ceritanya.






